Ketika 50 Sales Simetri Group Berkata “Ini Bukan Sekadar Sales Training Biasa” — Rekap Training Self-Driven Selling Bersama Dedy Budiman

Dedy Budiman Champion Sales Trainer Indonesia memfasilitasi training Self-Driven Selling untuk tim sales Simetri Group

Ada momen yang tidak bisa dipalsukan dalam sebuah ruang training: ketika peserta diam sejenak, lalu mengangguk pelan — bukan karena terpaksa, tapi karena sesuatu baru saja menyentuh kesadaran mereka dari dalam.

Itulah yang terjadi pada 27 Februari 2026, saat Dedy Budiman — Champion Sales Trainer Indonesia — memfasilitasi training salesmanship bertajuk Self-Driven Selling untuk tim sales dari Simetri Group, yang terdiri dari empat entitas perusahaan: PT. Sinar Metrindo Perkasa, PT. Simetri Putra Perkasa, PT. Simetri Putra Sejahtera dan PT. Sinar Distribusi Sejahtera.

Sebanyak 50 peserta hadir — mulai dari fresh graduate hingga sales manager berpengalaman — dan hasilnya bicara sendiri lewat data evaluasi yang ditinggalkan mereka setelah sesi berakhir.

Peserta training salesmanship Simetri Group bersama Dedy Budiman sales trainer Indonesia berpengalaman 30 tahun

Mengapa Motivasi Sales Bukan Soal Semangat Sesaat?

Dedy Budiman memulai sesi dengan pertanyaan yang tidak biasa: “Apakah kamu bekerja karena takut, atau karena benar-benar ingin?” Pertanyaan ini menjadi pintu masuk ke dua kerangka teori yang menjadi inti training hari itu — Expectancy Theory dari Vroom (1964) dan Self-Determination Theory (SDT).

Expectancy Theory mengajarkan bahwa motivasi seseorang adalah perkalian dari tiga komponen: Expectancy (keyakinan bahwa usaha akan menghasilkan kinerja), Instrumentality (keyakinan bahwa kinerja akan berbuah hasil nyata), dan Valence (seberapa bermakna hasil tersebut bagi dirinya). Jika salah satu nol, motivasinya pun runtuh — seberapapun keras orang itu bekerja secara fisik.

“Banyak sales yang gagal bukan karena malas, tapi karena Valence-nya kosong — mereka tidak tahu untuk siapa dan untuk apa mereka berjuang,” ujar Dedy Budiman dalam salah satu poin kunci training.

SDT melengkapi framework ini dengan tiga pilar kebutuhan psikologis: Autonomy (inisiatif dari dalam), Competence (kemampuan yang terus diasah), dan Relatedness (hubungan yang tulus dengan lingkungan). Ketiganya bukan teori abstrak — melainkan peta jalan menuju sales yang benar-benar self-driven.

Apa yang Paling Mengena bagi Peserta?

Hasil post-test menunjukkan rata-rata skor pengetahuan peserta mencapai 82,9 dari 100 — dengan 12 peserta meraih skor sempurna. Ini bukan angka ujian semata; ini bukti bahwa materi diserap, bukan sekadar didengar.

Namun yang lebih bermakna adalah jawaban kualitatif mereka. Saat ditanya insight paling baru yang didapat, peserta menulis dengan jujur dan antusias:

  • “Menjadi sales ternyata ada teorinya — dan teori itu nyata di lapangan.” — Ary Poetra, Sales
  • “Bahwa motivasi bukan soal target semata, tapi cara kita memaknai usaha, kemampuan, dan hasil.” — Dwi Septiar, Sales Representative
  • “Saya tidak pernah berpikir soal stability vs. instability dalam karier sales.” — Evander Ricardo Manuel, Staff (fresh graduate)
  • “Anti Fragile mindset — tumbuh justru karena ditekan, bukan sekadar bertahan.” — Mad Fahry, Sales
  • “Self driven itu bukan sikap keras kepala, tapi pondasi yang akan menentukan seperti apa kita di usia 30, 40, 50 tahun.” — Muhammad Alvie Herdiansyah, Sales

Insight tentang konsep Antifragile — bahwa orang yang kuat bukan yang tahan banting, tapi yang berkembang karena tekanan — menjadi salah satu poin yang paling banyak disebut. Begitu pula konsep Feel-Felt-Found dalam teknik handling objection yang disambut sangat praktis oleh peserta di lapangan.

Apa yang Mereka Putuskan untuk Dilakukan Setelah Training?

Saat ditanya satu hal konkret yang akan mereka lakukan berbeda, jawaban peserta mencerminkan perubahan nyata — bukan janji kosong:

  • Evaluasi rutin setiap aktivitas sales — bukan hanya melihat closing, tapi menganalisis prosesnya
  • Lebih inisiatif melampaui arahan atasan (Autonomy)
  • Membangun hubungan dengan divisi lain, bukan hanya saat butuh (Relatedness)
  • Memperkuat Valence — menemukan kembali mengapa mereka berjuang
  • Menerapkan self-control pada hal yang bisa dikendalikan, dan melepas yang tidak

Salah satu respons yang paling matang datang dari

Dwi Septiar: “Saya akan mulai menerapkan evaluasi rutin pada setiap aktivitas sales — menganalisis proses yang sudah dilakukan dan memperbaiki satu hal secara konsisten di setiap follow-up.” Inilah wujud nyata dari sales yang telah bergerak dari reaktif menjadi reflektif.

Bagaimana Peserta Menilai Training Ini?

Kesan peserta mencerminkan apa yang terasa di ruangan: “Training yang membuat saya membangun motivasi kembali — secara teori dan mindset. Semoga dapat meningkatkan kinerja sales ke depannya.” (Syah Gathan, Sales Engineer). Atau dari Raihan Zahran: “Menyatukan Simetri Group. Memberikan insight positif ke seluruh sales.”

Rekap training motivasi dan mindset sales Simetri Group oleh Dedy Budiman Derap Dynamis Training

Mengapa Pendekatan Dedy Budiman Berbeda?

Dedy Budiman adalah satu-satunya sales trainer di Indonesia yang secara konsisten memadukan pengalaman lapangan 30+ tahun dengan riset akademik doktoral dalam satu ruang training. Sebagai Founder KOMISI (Komunitas Profesi Sales Indonesia) dan Direktur Derap Dynamis Training & Development, Dedy tidak datang dengan teori yang jauh dari lapangan — melainkan dengan teori yang tumbuh dari lapangan itu sendiri.

Hasilnya, peserta tidak merasa “diceramahi” — mereka merasa diajak berpikir ulang. Dan ketika seseorang berpikir ulang tentang dirinya, itulah awal dari perubahan yang sesungguhnya.

Jika Anda ingin tim sales perusahaan Anda mengalami transformasi serupa — dari sales yang sekadar mengejar target menjadi sales yang self-driven, reflektif, dan tangguh menghadapi penolakan — saatnya bicara dengan Dedy Budiman.

Hubungi kami untuk konsultasi kebutuhan training sales perusahaan Anda.