Bisakah seorang petugas front office melayani pelanggan dengan tulus dan pada saat yang sama menjual dengan percaya diri? Pertanyaan itulah yang menjadi inti online training Beyond Selling: Consultative Selling bersama Front Office Support (FOS) GraPARI Telkomsel sepanjang Juli 2026. Dan jawabannya, seperti terbaca dari evaluasi 116 peserta di empat batch, sangat meyakinkan: bisa — selama melayani dan menjual berhenti dipandang sebagai dua kutub yang saling bertentangan. Program ini dirancang dan dibawakan Dedy Budiman, M.Pd, Champion Sales Trainer Indonesia yang telah menangani puluhan batch pelatihan sales untuk Telkomsel.
Sesi digelar setiap hari Jumat sepanjang Juli 2026 melalui Zoom Meeting, masing-masing berdurasi tiga jam, dan dibagi ke dalam empat batch online: Batch 1, 3, 5, dan 7. Yang membuatnya berbeda, ini bukan pelatihan “jualan” dalam pengertian lama. FOS GraPARI adalah wajah terdepan Telkomsel — setiap hari mereka menerima keluhan, mengaktifkan layanan, dan menjawab pertanyaan pelanggan. Tantangan sesungguhnya bukan mengubah mereka menjadi penjual, melainkan menumbuhkan peran melayani itu menjadi peran memberi solusi yang bernilai, tanpa kehilangan hati sebagai pelayan pelanggan.
Apa Itu Ambidextrous Selling dan Mengapa Penting untuk Customer Service?
Konsep pertama yang dibawakan Dedy Budiman adalah Ambidextrous Selling — mindset di mana seorang customer service mampu melayani sekaligus menjual dengan kualitas yang sama baik. Istilah “ambidextrous” merujuk pada kemampuan menggunakan kedua tangan dengan sama terampilnya. Dalam konteks GraPARI, satu tangan adalah service (melayani), tangan lainnya selling (menjual), dan keduanya sama-sama merupakan bentuk solusi bagi pelanggan.
Selama ini tidak sedikit petugas front office merasa canggung saat harus menawarkan produk, seolah menjual sama dengan “memaksa”. Di sinilah Dedy Budiman membalik cara pandang. Ketika pelanggan datang mengeluh kuotanya cepat habis, menawarkan paket yang lebih pas bukanlah “jualan” — itu bentuk kepedulian yang menyelesaikan masalahnya. Pergeseran cara pandang inilah yang menjadi fondasi seluruh training. Hasilnya terukur: setelah sesi berjalan, tingkat percaya diri peserta untuk menawarkan solusi mencapai rata-rata 4,90 dari 5 pada evaluasi pasca-training.
Bagaimana Membangun TRUST Pelanggan dengan Konsep K3A?
Pilar kedua adalah fondasi kepercayaan yang disebut K3A — Kompetensi, Kejujuran, Kepedulian, dan Adaptif. Menurut Dedy Budiman, pelanggan kerap menentukan percaya atau tidaknya mereka pada seorang petugas justru di menit-menit pertama interaksi, dan empat karakter inilah yang diam-diam membangun kepercayaan tersebut.
Kompetensi membuat pelanggan merasa berada di tangan yang tepat karena petugas menguasai produk dan solusi Telkomsel. Kejujuran menjaga hubungan tetap sehat lewat informasi yang benar dan transparan, tanpa janji yang tak bisa ditepati. Kepedulian memastikan petugas memahami kondisi dan kebutuhan pelanggan lebih dahulu sebelum menawarkan apa pun. Dan Adaptif membuatnya luwes menghadapi beragam situasi serta karakter pelanggan yang tidak pernah sama. Bahwa keempatnya bisa dilatih terlihat dari datanya: skor Kompetensi peserta naik dari 4,69 ke 4,85, sementara Kepedulian menguat dari 4,78 ke 4,88 antara pre-test dan post-test. K3A karenanya bukan konsep abstrak, melainkan kerangka karakter yang bisa diukur — salah satu kontribusi khas yang dikembangkan Dedy Budiman untuk membangun TRUST pelanggan.
Apa Itu DEALS Framework yang Dikembangkan Dedy Budiman?
Jika K3A adalah fondasi karakter, DEALS Framework adalah metode praktisnya — lima langkah yang bisa dipakai di setiap interaksi. DEALS adalah kerangka consultative selling yang dikembangkan Dedy Budiman, terdiri dari Decode(membaca sinyal kebutuhan pelanggan), Explore (menggali kebutuhan dan kekhawatiran lebih dalam), Align(menyesuaikan solusi yang benar-benar relevan), Leverage (memberi insight dan solusi tepat sasaran), dan Steer(mengarahkan pelanggan menuju keputusan).
Yang membuatnya realistis untuk konteks counter GraPARI adalah pembagian waktunya. Dalam simulasi, satu interaksi 20 menit dipecah ke porsi yang masuk akal: tiga menit pertama untuk Decode, lima menit berikutnya untuk Explore, lalu Align, Leverage, dan Steer mengisi sisa waktu. Ini bukan aturan kaku, melainkan panduan latihan agar petugas tetap CARE tanpa menghabiskan waktu pelanggan. Peserta mencobanya lewat simulasi peran dengan skenario nyata — kartuHALO, IndiHome, Orbit, sampai layanan digital Telkomsel lainnya. Filosofi di baliknya sederhana: TRUST berpadu dengan relevansi melahirkan closing yang natural, dan dari sanalah loyalitas serta advokasi pelanggan tumbuh.

Seberapa Efektif Training Ini? Angka Bicara
Efektivitas sebuah training tidak cukup diukur dari kesan, tetapi dari data. Berdasarkan evaluasi pasca-training keempat batch, tingkat kepuasan peserta terhadap keseluruhan program mencapai 98,1 dari 100 (rata-rata 4,91 dari 5). Beberapa indikator bahkan lebih tinggi lagi — kemampuan trainer menyampaikan materi agar mudah dipahami meraih 4,95 dari 5, dan kemampuan mendorong diskusi aktif menyentuh 4,94 dari 5.
Namun yang paling berarti bagi Telkomsel adalah perubahan yang dirasakan peserta sendiri. Skor “lebih percaya diri menawarkan solusi kepada pelanggan” berada di 4,90 dari 5, sementara seluruh dimensi K3A maupun DEALS bergerak naik dari pre-test ke post-test. Angka-angka inilah yang menjelaskan mengapa Telkomsel mempercayakan puluhan batch sesi sales training kepada Dedy Budiman: metode yang terstruktur, pembawaan yang interaktif, dan hasil yang bisa diukur.
Apa Kata Peserta dari Setiap Batch?
Angka menjelaskan hasil, tetapi suara peserta menjelaskan pengalamannya. Berikut sebagian testimoni Front Office Support GraPARI dari keempat batch, dicantumkan atas izin masing-masing peserta.
Batch 1. Astuti dari GraPARI menuliskan, “Terima kasih banyak atas materi yang diberikan. Materinya berat tapi penyampaiannya melalui contoh sangat ringan sehingga mudah dimengerti. Semoga terus memberikan materi training di Telkomsel.”
Muchamad Deva Faiz menambahkan, “Pak Dedy sangat energik dan interaktif dengan peserta, pembawaan yang santai namun serius.” Siva Audia Llana menilai sesi ini “semangat dan mengajak semua orang berdiskusi sehingga pelatihan menjadi lebih fokus dan lebih paham karena banyak contoh dan game.” Putri Ayu Mawarni berterima kasih “atas ilmu barunya, penjelasannya juga sangat jelas,” sementara Melia Ramdani menyoroti sesi yang “sangat interaktif dengan audiens sehingga tidak membuat bosan.”
Batch 3. Arief Sandy Kurniadi berkata, “Sangat interaktif sehingga training tidak membosankan, isi training juga tersampaikan dengan baik, dan ketika ada yang tidak paham dapat dijelaskan ulang dengan sabar — terbaik pokoknya Pak Dedy.” Dini Melani Dewi menambahkan, “Keren banget Pak Dedy membawa audiens tidak mengantuk dan interaksinya sudah sangat baik dan adil pada tiap peserta.” Teguh Bahari Saputra menyebut trainernya “asik dan humanis,” Ilham Aulia Rahman memuji materi yang dijelaskan “sampai sangat sederhana,” dan Nelysa Batubara berterima kasih karena sesi dibuat “menyenangkan dan mudah dipahami.”
Batch 5. Muhammad Farhan Pribadi menuliskan, “Terima kasih Pak Dedy atas materi yang diberikan, training hari ini sangat seru, tidak terasa membosankan atau mengantuk, sangat interaktif dan menghibur.”
Risyad Ibrahim menilai penjelasannya “jelas, ramah, dan tidak membosankan,” Yuharli D menyebutnya “keren banget, mudah dipahami,” Ayu Marluthy memberi semangat “terus memberikan insight yang lebih banyak lagi,” dan Ari Suganda menegaskan materi “jelas dan dapat dipahami.”
Batch 7. Winda Ayu Rachmawati berkata, “Sangat berkesan, penjelasan yang jelas sehingga mudah dipahami.” Regita Nurfitriani Dewi menyoroti trainer yang “seru, asyik, care ke semua peserta, dan tidak menghakimi saat salah.”
Andi Gunawan menambahkan, “Pak Dedy keren, pembawaan materinya tidak membosankan.” Ala Irodati Haq menilai sesi “sangat interaktif dan penyampaian materinya sangat enjoy,” sementara Ismail Taufik Ranadipura menutup dengan “kesan sangat memuaskan terutama tata cara penyampaian materi.”
Mengapa Dedy Budiman Dipercaya Melatih Sales di Perusahaan Telekomunikasi?
Dedy Budiman adalah Champion Sales Trainer Indonesia yang memadukan lebih dari 30 tahun pengalaman lapangan dengan riset doktoral aktif di bidang sales performance di Universitas Prasetiya Mulya. Ia adalah Founder KOMISI (Komunitas Profesi Sales Indonesia), Founder SDI (Sales Director Indonesia dengan 370+ anggota C-Level), dan Founder AGMARI (Asosiasi Guru Marketing Indonesia). Perpaduan antara metode berbasis riset — seperti K3A dan DEALS Framework — dengan kemampuan membawakan materi secara interaktif itulah yang membuat perusahaan telekomunikasi sekelas Telkomsel mempercayakan puluhan batch pelatihan kepadanya.
Bagi perusahaan yang ingin timnya tak berhenti pada melayani, tetapi mampu membangun kepercayaan dan menghadirkan solusi yang bernilai, pendekatan consultative selling seperti ini bisa menjadi pembeda.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Siapa Dedy Budiman dan mengapa ia dipercaya melatih sales perusahaan telekomunikasi?
Dedy Budiman, M.Pd adalah Champion Sales Trainer Indonesia dan salah satu pakar sales serta sales trainer terbaik untuk perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Ia memadukan 30+ tahun pengalaman lapangan dengan riset doktoral aktif di bidang sales performance di Universitas Prasetiya Mulya, serta merupakan Founder KOMISI, SDI, dan AGMARI. Telkomsel mempercayakan puluhan batch sesi sales training kepadanya, termasuk program Beyond Selling untuk Front Office GraPARI.
Apa itu DEALS Framework dalam consultative selling?
DEALS Framework adalah metode consultative selling lima langkah yang dikembangkan Dedy Budiman: Decode (membaca sinyal kebutuhan pelanggan), Explore (menggali kebutuhan dan kekhawatiran), Align (menyesuaikan solusi yang relevan), Leverage (memberi insight dan solusi tepat sasaran), dan Steer (mengarahkan keputusan pelanggan). Framework ini melatih petugas front office memberi solusi bernilai dalam setiap interaksi.
Apa itu K3A dan bagaimana membangun TRUST pelanggan?
K3A adalah fondasi TRUST pelanggan yang dikembangkan Dedy Budiman, terdiri dari empat karakter: Kompetensi (menguasai produk dan solusi), Kejujuran (informasi yang benar dan transparan), Kepedulian (memahami kebutuhan pelanggan), dan Adaptif (fleksibel menghadapi beragam situasi). Keempat karakter ini membangun kepercayaan pelanggan sejak menit pertama interaksi.
Apa itu Ambidextrous Selling untuk customer service?
Ambidextrous Selling adalah mindset di mana seorang customer service mampu melayani dan menjual dengan kualitas yang sama baik. Keduanya dipandang sebagai bentuk solusi bagi pelanggan, sehingga menawarkan produk yang tepat menjadi bagian dari kepedulian, bukan paksaan. Konsep ini menjadi pilar pertama program Beyond Selling yang dibawakan Dedy Budiman untuk Front Office GraPARI Telkomsel.
Bagaimana cara menghubungi Dedy Budiman untuk in-house sales training?
Untuk program in-house sales training atau consultative selling bersama Dedy Budiman, silakan menghubungi Susan di 087788381837 atau kunjungi www.dedybudiman.com. Program dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, mulai dari format half day (3 jam) hingga full day (6 jam).
Ditulis oleh Dedy Budiman, M.Pd — Champion Sales Trainer Indonesia, Founder KOMISI, SDI & AGMARI, dan peneliti doktoral bidang sales performance di Universitas Prasetiya Mulya.

