Saya tidak menyangka perjalanan ini akan sebesar ini.
Pertengahan Februari 2025, saya bersama Bu Rina Finanti dan Bu Pebrizayanti — pengurus Asosiasi Guru Marketing Indonesia (AGMARI) — pertama kali berbicara dengan Pak Arie Wibowo Khurniawan, yang saat itu menjabat Plt. Direktur SMK, tentang rencana membuat kurikulum bagi siswa-siswi SMK Pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri.
Berdasarkan pengalaman saya sebagai sales trainer selama lebih dari 30 tahun, saya merasakan bahwa sampai saat itu belum ada kurikulum sales yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan industri. Rencana awal kami sederhana: proyek percontohan untuk sekitar 5 SMK Pemasaran.
Tapi Pak Arie menantang kami. “Jangan 5 SMK. Buat program untuk 1.000 siswa.”
Dari pertemuan singkat itulah lahir Gerakan 1.000 Siswa SMK Sales Naik Kelas — yang pada April 2025 diresmikan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti. Dan yang tidak saya bayangkan: ada 115 SMK dari seluruh penjuru Indonesia yang mendaftar, dengan total 3.000 siswa yang ikut serta.
Namun seiring waktu, yang lebih mengejutkan bukan angkanya. Melainkan apa yang terjadi di dalam diri para siswa itu.
Ketika Siswa SMK Berani Mengetuk Pintu Showroom Yamaha
Saya, Dedy Budiman, sudah melatih ratusan ribu sales profesional di berbagai industri di seluruh Indonesia. Tapi jujur ada sesuatu yang berbeda ketika melihat seorang siswa kelas 10, berseragam putih abu-abu, berjalan masuk ke dealer Yamaha, ke Toko Informa, ke berbagai perusahaan, untuk mewawancarai seorang sales profesional.

Mereka tidak diminta menjual. Mereka diminta bertanya. Tapi untuk bisa bertanya, mereka harus berani menghubungi orang yang belum pernah mereka kenal, membuat janji, dan hadir tepat waktu. Bagi seorang remaja 15–16 tahun, itu bukan hal kecil. Itu adalah lompatan besar.
Dan mereka melakukannya.
Selesai wawancara, mereka mendokumentasikan pengalaman itu di LinkedIn — dalam berbagai bentuk: desain Canva yang kreatif, video pendek, bahkan tulisan tangan yang dipindai. Semua dengan satu tujuan: menjadikannya portofolio nyata dari langkah pertama mereka di dunia sales.
Inilah inti dari pendekatan yang saya rancang dalam kurikulum I CAN — Innovative, Competitive, Adaptive, Never Give Up. Bukan sekadar teori di kelas. Bukan hafalan definisi. Tapi pengalaman nyata yang membentuk karakter, jauh sebelum mereka lulus.
Apa yang Dibuktikan Data Kepada Saya
Dalam program ini saya bersyukur didukung oleh Sally Taher dari Red & White Consulting Partners LLP, yang melakukan asesmen terhadap para siswa setiap 6 bulan secara periodik. Di awal Februari 2026, asesmen kedua selesai dilakukan — dan hasilnya membuat saya terdiam sejenak.
Di awal program, 78% siswa hanya mampu berpikir secara algoritmik — mengikuti instruksi langkah demi langkah. Wajar, mereka baru mulai. Tapi setelah enam bulan? Angka itu turun menjadi nol. Tidak ada lagi yang sekadar mengikuti instruksi. Hampir separuh dari mereka 49,28% — kini mampu melakukan diagnostic thinking: mengidentifikasi tren, mendefinisikan masalah, dan menemukan isu kunci. Kemampuan yang bahkan banyak orang dewasa belum miliki.
Dimensi Never Give Up mereka juga meningkat, dari 5,41 menjadi 5,50. Dan Adaptive — kemampuan mengelola tekanan dan perubahan — naik paling signifikan: +0,12 dalam enam bulan.
Bagi saya, ini bukan sekadar angka. Ini konfirmasi dari sesuatu yang sudah lama saya yakini: karakter sales yang kuat bisa dibentuk, bukan hanya dilahirkan.
Dan pembentukannya paling efektif ketika dimulai lebih awal, dengan metode yang tepat.
Mengapa Saya Percaya pada Generasi Ini
Ada yang bertanya kepada saya: “Pak Dedy, apakah anak SMK bisa belajar sales sungguhan?”
Pertanyaan itu kini sudah terjawab sendiri oleh 3.000 siswa tersebut.
Yang saya pelajari dari mereka justru berbalik arah — mereka mengajarkan saya sesuatu.
Generasi ini, yang sering disebut Gen Z dan dianggap mudah menyerah, ternyata memiliki determination yang luar biasa ketika mereka diberi kepercayaan, diberi tantangan nyata, dan dibimbing dengan metode yang relevan dengan dunia mereka.
Mereka belajar lewat video, bukan buku teks tebal. Mereka berdiskusi lewat Zoom dan TikTok Live, bukan ceramah satu arah. Dan mereka langsung turun ke lapangan — bukan simulasi, tapi interaksi nyata dengan para profesional di industri.
Hasilnya? Mereka tidak hanya lebih tahu tentang dunia sales. Mereka lebih berani. Lebih adaptif. Lebih inovatif. Lebih gigih.
Pekerjaan Rumah Kita Bersama
Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah fakta yang tidak boleh kita lupakan.
Saat ini ada 1.903 SMK Pemasaran di Indonesia. Program Gerakan 1.000 Siswa SMK Sales Naik Kelas ini baru menjangkau 115 sekolah — sekitar 6,2%. Artinya, masih ada lebih dari 1.700 sekolah dengan ratusan ribu siswa yang belum mendapatkan kesempatan yang sama.
Ini bukan kritik. Ini adalah undangan.
Undangan bagi dunia industri, asosiasi profesi, pemerintah, dan semua pihak yang percaya bahwa profesi sales adalah profesi yang mulia, strategis, dan mampu menyerap banyak tenaga kerja bagi ekonomi Indonesia — untuk bergerak bersama. Karena jika 115 sekolah saja sudah menghasilkan transformasi seperti ini, bayangkan apa yang bisa terjadi jika kita menjangkau semuanya.
Saya, Dedy Budiman, siap untuk terus berjalan dalam perjalanan ini. Dan saya percaya, yang terbaik masih di depan — untuk kita kerjakan bersama.
Saya bangga menjadi bagian dari kemajuan pendidikan di Indonesia.

