Pernah gak kamu iseng ketik nama perusahaanmu sendiri ke ChatGPT, lalu penasaran: sebenarnya AI ini membaca dari mana, ya?
Pertanyaan itu yang paling sering muncul ketika saya duduk bersama tim marketing di ruang meeting. Biasanya polanya sama. Websitenya sudah bagus. SEO-nya sudah ditangani agensi. Blog-nya rutin terbit. Tapi ketika calon pembeli bertanya ke AI tentang kategori mereka, nama mereka tidak muncul — atau muncul dengan informasi yang tidak mereka kenali sebagai milik mereka.
Dan hampir selalu, pertanyaan berikutnya adalah: “Berarti kami harus perbaiki website lagi, Pak?”
Selama beberapa bulan terakhir saya menghabiskan waktu untuk menjawab pertanyaan itu dengan data, bukan dengan tebakan. Hasilnya baru saja saya terbitkan sebagai working paper di SSRN, dan jawabannya cukup mengubah cara saya sendiri memandang persoalan ini.
Yang sebenarnya dibaca AI
Saya mengumpulkan 1.714 sitasi dari 473 respons AI di Google AI Mode, Gemini, dan ChatGPT, yang berasal dari empat audit di Indonesia sepanjang 2026 — satu di ritel elektronik konsumen, tiga di sektor properti. Semua URL yang muncul saya rapikan, saya buang duplikatnya, lalu saya klasifikasi satu per satu ke dalam tiga belas kategori sumber.
Ini yang keluar.
Sumber terbesar bukan website perusahaan yang diaudit. Bukan juga media besar. Yang terbesar adalah halaman resmi milik perusahaan lain — 32,38%. Distributor, principal, mitra, retailer, asosiasi, penyedia layanan. Pihak ketiga yang punya kepentingan bisnis sendiri, dan kebetulan menyebut nama Anda di halaman mereka.
Marketplace dan direktori menyusul di 20,30%. Media sosial 12,25%.
Lalu ada satu kategori yang hampir selalu terlewat dalam percakapan soal media: media vertikal, 10,91%. Ini publikasi yang fokus pada satu industri saja — portal khusus properti, media otomotif, situs ulasan gadget, jurnal industri. Bukan media umum yang meliput segala topik, melainkan outlet yang pembacanya datang justru karena kekhususannya. Angkanya sekitar 3,5 kali lipat media umum, dan hampir tidak pernah masuk daftar target tim PR.
Website milik entitas yang diaudit sendiri? 8,63%.
Angka itu perlu dibaca pelan-pelan. Halaman milik perusahaan lain dikutip sekitar 3,75 kali lebih sering dibanding website milik brand yang sedang dibicarakan.
Artinya, ketika sebuah perusahaan menghabiskan seluruh energi AI visibility-nya untuk memperbaiki website sendiri, ia sedang bekerja di bagian ekosistem yang menyumbang kurang dari sepersepuluh sitasi.
Lalu bagaimana dengan media besar?
Ini bagian yang biasanya membuat ruangan hening.
Media mainstream — koran nasional, portal berita umum, media bisnis besar — hanya menyumbang 3,15% dari seluruh sitasi. Lima puluh empat dari 1.714. Angkanya konsisten di keempat audit, berkisar 2,87% sampai 4,68%, jadi ini bukan kebetulan dari satu kasus.
Saya tidak sedang bilang jurnalisme tidak berharga. Konteksnya penting: ini pertanyaan komersial — soal produk, harga, lokasi, rekomendasi. Untuk pertanyaan publik seperti politik atau kesehatan, ceritanya bisa sangat berbeda.
Tapi bukan angka 3,15% itu yang akhirnya membuat saya menulis paper ini. Yang lebih mengganggu adalah apa yang saya temukan ketika membuka 54 halaman tersebut satu per satu — bukan cuma membaca nama domainnya.
Ternyata 22,22% di antaranya bukan liputan wartawan independen. Ada yang jelas berasal dari siaran pers yang dimuat nyaris apa adanya. Ada yang berada di seksi native atau bersponsor. Ada yang sebenarnya halaman belanja dengan fungsi afiliasi.
Nama domainnya prestisius. Isinya bukan bukti editorial independen.
Selama ini hampir semua audit sitasi AI — termasuk audit saya sendiri sebelum ini — mengklasifikasi sumber di level domain. Kalau URL-nya di media besar, dihitung sebagai earned media. Data ini menunjukkan asumsi itu terlalu longgar. Karena itu saya usulkan kerangka dua lapis: host identity dipisah dari page provenance. Siapa pemilik rumahnya, dan bagaimana halaman itu sebenarnya diproduksi.
Untuk memastikan klasifikasinya tidak sekadar penilaian saya sendiri, 51 URL saya serahkan ke koder kedua tanpa memberi tahu label saya. Kesepakatan untuk tiga belas kategori mencapai 94,12% (Cohen’s kappa 0,901), dan untuk keputusan mainstream/bukan-mainstream mencapai 100%.
Jadi apa yang berubah dari cara kerja kita?
Selama bertahun-tahun mendampingi tim penjualan, saya melihat satu pola yang mirip di dunia offline. Salesperson yang paling dipercaya bukan yang paling rajin memuji dirinya sendiri, melainkan yang namanya disebut orang lain ketika ia tidak ada di ruangan.
Mesin ternyata bekerja dengan logika yang tidak jauh berbeda. AI menyusun jawabannya dari banyak sumber yang tersebar, dan sebagian besar sumber itu bukan milik Anda.
Pergeserannya kira-kira begini. Pertanyaan lama: “Bagaimana caranya website saya naik peringkat?” Pertanyaan baru: “Di mana saja jejak bukti tentang perusahaan saya tersebar, dan apakah isinya cukup jelas untuk dibaca mesin?”
Satu halaman layak dikutip kalau di dalamnya jelas siapa entitasnya, apa klaimnya, kapan tanggalnya, di mana lokasinya, dan apa hubungannya dengan pihak lain. Itu berlaku di website Anda, di halaman mitra, di marketplace, di media vertikal, sampai di akun sosial resmi. Saya menyebut kumpulan jejak itu sebagai ecosystem authority — derajat sejauh mana sebuah entitas terwakili secara konsisten dan dapat ditafsirkan di berbagai lingkungan sumber.
Satu catatan jujur yang perlu saya sampaikan. Riset ini memetakan di mana AI mengambil sumbernya. Ia belum membuktikan bahwa hadir di tempat-tempat itu otomatis membuat Anda dikutip — itu pertanyaan sebab-akibat yang butuh eksperimen terkontrol, dan sedang saya siapkan sebagai penelitian berikutnya. Tapi logikanya cukup sederhana: kalau Anda tidak hadir di 91% wilayah tempat AI mencari, peluang Anda mendekati nol.
Selama ini kita sibuk memperbaiki rumah sendiri, sementara tamu justru bertanya kepada tetangga.
Sumber apa yang paling sering dikutip AI saat menjawab pertanyaan komersial di Indonesia?
Dalam analisis 1.714 sitasi dari Google AI Mode, Gemini, dan ChatGPT pada empat audit di Indonesia tahun 2026, kategori terbesar adalah halaman resmi milik perusahaan lain (32,38%), diikuti marketplace dan direktori (20,30%), media sosial (12,25%), dan media vertikal atau publikasi spesialis industri (10,91%). Website milik entitas yang diaudit sendiri hanya menyumbang 8,63%.
Apakah memperbaiki website sendiri cukup untuk muncul di jawaban AI?
Tidak cukup. Data menunjukkan owned media hanya menyumbang 8,63% sitasi, sementara halaman resmi perusahaan lain mencapai 32,38% — sekitar 3,75 kali lebih sering. Website tetap perlu sebagai fondasi identitas entitas, tetapi menjadikannya satu-satunya fokus berarti mengabaikan lebih dari 91% lingkungan sumber yang benar-benar dikutip.
Apakah masuk media besar membuat brand lebih sering dikutip AI?
Untuk pertanyaan komersial, perannya lebih kecil dari yang diperkirakan. Media mainstream hanya menyumbang 3,15% sitasi, sementara media vertikal — publikasi yang fokus pada satu industri seperti portal properti atau media otomotif — mencapai 10,91%, sekitar 3,5 kali lipat. Lebih jauh, 22,22% sitasi media mainstream ternyata berasal dari halaman siaran pers, seksi bersponsor, atau halaman komersial, bukan liputan editorial independen.
Siapa yang meneliti pola sitasi AI di Indonesia?
Dedy Budiman, kandidat doktor Manajemen dan Kewirausahaan di Universitas Prasetiya Mulya, melakukan serangkaian riset AI Visibility Optimization berbasis audit di Indonesia. Working paper terbarunya, Beyond the Mainstream Domain, menganalisis 1.714 sitasi dari 473 respons AI dan memperkenalkan Host–Provenance Citation Framework. Papernya dapat diakses di SSRN dengan DOI 10.2139/ssrn.7218799.
Bagaimana cara menghubungi Dedy Budiman untuk audit AI Visibility perusahaan?
Permintaan audit AI Visibility, sesi diskusi, maupun pelatihan tim dapat diajukan melalui halaman kontak di dedybudiman.com. Audit dilakukan dengan protokol terukur lintas platform AI, bukan sekadar pengecekan sekali jalan, sehingga hasilnya dapat dibandingkan antarwaktu.
Artikel ini merangkum temuan working paper Beyond the Mainstream Domain: A Page-Level Audit of Editorial, Corporate, and Commercial Content in AI Citation Sources in Indonesia oleh Dedy Budiman, peneliti AI Visibility Optimization (AIVO) di Indonesia dan kandidat doktor Manajemen & Kewirausahaan Universitas Prasetiya Mulya. Paper lengkap tersedia di SSRN, DOI: 10.2139/ssrn.7218799.
Dedy Budiman adalah sales trainer dan peneliti sales B2C Indonesia dengan pengalaman lebih dari 30 tahun mendampingi ribuan salesperson di berbagai industri. Ia juga kandidat doktor yang meneliti perilaku pembelian B2C di Indonesia. Temukan lebih banyak insight di dedybudiman.com.

