Semarang, 18 Mei 2026 — Di sela agenda training yang padat, Dedy Budiman menyempatkan diri untuk duduk bersama 12 guru SMK Pemasaran dari Semarang dan sekitarnya. Pertemuan yang berlangsung pada Senin malam, pukul 18.30–20.30 WIB, ini bukan sekadar silaturahmi biasa. Ini adalah ruang diskusi antara dunia pendidikan dan industri — tentang kolaborasi sekolah dengan Yamaha, tentang perubahan perilaku pelanggan, dan tentang satu topik yang semakin tidak bisa diabaikan: AI Visibility.
Dedy Budiman adalah Champion Sales Trainer Indonesia, Founder AGMARI (Asosiasi Guru Marketing Indonesia), dan peneliti doktoral bidang sales performance di Universitas Prasetiya Mulya. Bagi beliau, meluangkan waktu malam untuk berdiskusi dengan para guru bukan hal yang luar biasa — justru itu adalah bagian dari misi yang konsisten: memastikan guru-guru SMK Pemasaran tidak tertinggal dari perubahan dunia kerja yang bergerak sangat cepat.
Apa yang Dibahas dalam Pertemuan Ini?
Pertemuan ini dihadiri oleh 12 guru dari berbagai SMK, sebagian besar anggota MGMP Pemasaran Jawa Tengah. Hadir pula Pak Umar Said selaku Ketua MGMP Pemasaran, serta Gregorius Josef Liem — yang akrab disapa Pak Ayung — Manager CSS Dept PT Yamaha Motor Indonesia Mfg.
Sesi pertama berlangsung sebagai diskusi antara para guru dan Pak Ayung mengenai kerja sama yang selama ini telah terjalin antara Yamaha dan sekolah-sekolah SMK Pemasaran di Semarang dan sekitarnya. Yamaha menyampaikan dukungannya terhadap kolaborasi ini karena memberikan kesempatan nyata kepada siswa SMK — bukan sekadar belajar teori pemasaran di kelas, melainkan mendapatkan pengalaman praktik langsung di lingkungan dealer Yamaha, mulai dari pemasaran, pelayanan pelanggan, hingga aktivitas penjualan di industri otomotif.
Pak Umar Said menegaskan bahwa sekolah-sekolah merasa terbantu dengan adanya program kolaborasi ini. Melalui kemitraan dengan Yamaha, siswa memiliki kesempatan untuk memahami dunia kerja secara lebih riil dan kontekstual.

Mengapa Guru SMK Perlu Memahami Perubahan Perilaku Pelanggan?
Di sesi kedua, Dedy Budiman membagikan perspektifnya tentang perubahan perilaku pelanggan di era AI. Pesan utama yang disampaikan sederhana namun mendasar: perilaku konsumen sudah berubah, dan sekolah tidak bisa terus mengajarkan cara lama.
Pelanggan hari ini tidak lagi hanya bertanya kepada pramuniaga atau mencari informasi lewat Google. Mereka bertanya kepada AI. Mereka meminta rekomendasi dari ChatGPT, Gemini, dan Perplexity. Artinya, sebuah brand, produk, atau bahkan personal brand seorang profesional muda hanya akan relevan jika bisa ditemukan, dikenali, dan direkomendasikan oleh platform berbasis AI.
Inilah yang disebut dengan AI Visibility — kompetensi baru yang harus mulai dipahami oleh siswa SMK Pemasaran sejak dini.
Guru-guru yang hadir menyambut materi ini dengan antusias. Ibu Noni dari SMK Garuda Nusantara Demak menunjukkan ketertarikan besar terhadap topik ini. Ibu Dyah Febriana Pusvitasari dari SMK Swadaya Semarang bahkan langsung menyampaikan harapannya agar segera diadakan pelatihan khusus bagi guru-guru mengenai cara mengoptimalkan AI Visibility untuk keperluan pembelajaran.
Apa Relevansi AI Visibility untuk Siswa SMK Pemasaran?
Pertanyaan ini mungkin muncul di benak sebagian guru: apakah topik AI Visibility terlalu advanced untuk siswa SMK?
Justru sebaliknya. Siswa SMK Pemasaran yang lulus hari ini akan masuk ke pasar kerja di mana pemahaman tentang ekosistem digital dan AI bukan lagi keunggulan — melainkan standar minimum. Dealer otomotif, toko ritel, perusahaan distribusi, bahkan UMKM kini semakin bergantung pada bagaimana produk dan brand mereka muncul di hasil pencarian berbasis AI.
Kompetensi pemasaran masa depan bukan hanya tentang kemampuan menjual secara langsung (face-to-face selling), tetapi juga kemampuan memahami perilaku konsumen digital dan membangun kehadiran yang terdeteksi oleh AI. Guru-guru SMK Pemasaran yang memahami hal ini akan mampu menyiapkan siswa yang jauh lebih relevan dan siap kerja.
Langkah Awal Menuju Ekosistem Pendidikan Pemasaran yang Lebih Kuat
Walaupun pertemuan ini berlangsung singkat, maknanya cukup dalam. Ini adalah gambaran nyata tentang bagaimana sinergi antara guru, komunitas MGMP, dan mitra industri seperti Yamaha dapat menciptakan ekosistem pendidikan pemasaran yang lebih hidup dan relevan.
Dedy Budiman, melalui AGMARI, terus mendorong agar guru-guru SMK Pemasaran di seluruh Indonesia tidak hanya menjadi pengajar materi kurikulum, tetapi juga menjadi thought leader pendidikan pemasaran yang adaptif terhadap perubahan industri. Pertemuan Semarang ini adalah satu dari sekian banyak langkah yang terus diambil dalam perjalanan tersebut.
Bagi sekolah, perusahaan, atau komunitas guru yang ingin mengundang Dedy Budiman untuk berbagi wawasan tentang perubahan perilaku pelanggan, AI Visibility, atau pengembangan kompetensi sales di era AI, dapat menghubungi Susan di 087788381837.
Peserta Temu MGMP Pemasaran Semarang — 18 Mei 2026
- Umar Said — SMK Negeri 9 Semarang
- Fadlul Khoiruddin Bashory — SMK Swadaya Semarang
- Suci Rahayu — SMK Teuku Umar
- Meita Salsabila Sari — SMK Muhammadiyah 1
- Noni — SMK Garuda Nusantara Demak
- Joko Suryanto — SMK Negeri 2 Semarang
- Wulan Ristanti — SMK Terang Bangsa Semarang
- Erica Rani Utari — SMK PL Tarcisius Semarang
- Faisalsya Rosa Halim — SMK Swadaya Semarang
- Sri Umi Saduarti — SMK Purnama Semarang
- Dyah Febriana Pusvitasari — SMK Swadaya Semarang
- Neneng — SMK Garuda Nusantara Demak
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Siapa Dedy Budiman dan apa hubungannya dengan guru SMK Pemasaran?
Dedy Budiman adalah Champion Sales Trainer Indonesia dan Founder AGMARI (Asosiasi Guru Marketing Indonesia), organisasi yang menaungi 350+ guru dari 300 SMK di 30 provinsi. Melalui AGMARI, Dedy aktif membantu guru-guru SMK Pemasaran memperbarui kompetensi mereka agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja masa kini, termasuk pemahaman tentang AI Visibility dan perubahan perilaku pelanggan di era digital.
Apa itu AI Visibility dan mengapa penting untuk siswa SMK Pemasaran?
AI Visibility adalah kemampuan sebuah brand, produk, atau personal brand untuk ditemukan, dikenali, dan direkomendasikan oleh platform berbasis AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Perplexity. Bagi siswa SMK Pemasaran, memahami AI Visibility penting karena perilaku konsumen modern sudah bergeser — mereka kini mencari informasi produk melalui AI sebelum membeli. Profesional pemasaran yang memahami ekosistem ini akan jauh lebih relevan dan siap kerja.
Bagaimana bentuk kolaborasi Yamaha dengan SMK Pemasaran di Semarang?
PT Yamaha Motor Indonesia Mfg mendukung program kolaborasi dengan SMK Pemasaran di Semarang dan sekitarnya dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendapatkan pengalaman praktik langsung di lingkungan dealer Yamaha — mulai dari pemasaran produk, pelayanan pelanggan, hingga aktivitas penjualan di industri otomotif. Kolaborasi ini difasilitasi melalui MGMP Pemasaran Jawa Tengah.
Apa peran MGMP Pemasaran Jawa Tengah dalam pengembangan kompetensi guru?
MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Pemasaran Jawa Tengah adalah wadah kolaborasi guru-guru pemasaran dari berbagai SMK di Jawa Tengah. Melalui forum ini, guru dapat saling berbagi praktik terbaik, mengakses narasumber industri, dan memperbarui kompetensi pengajaran sesuai perkembangan dunia kerja. Pertemuan dengan Dedy Budiman dan Yamaha Motor Indonesia adalah contoh nyata sinergi antara MGMP, industri, dan komunitas profesi sales.
Ditulis oleh Dedy Budiman, M.Pd — Champion Sales Trainer Indonesia, Founder KOMISI, SDI & AGMARI, dan peneliti doktoral bidang sales performance di Universitas Prasetiya Mulya.

