Kolaborasi yang Perlu Terus Dikawal: Kunjungan Direktorat SMK dan AGMARI ke Kawan Lama Group dan Yamaha Indonesia

Dedy Budiman pakar sales inisiator Gerakan 1000 Siswa SMK Sales Naik kelas


Program yang baik tidak cukup hanya diluncurkan. Ia perlu dikawal, dievaluasi, dan diselaraskan secara berkala agar benar-benar memberi dampak.

Itulah yang saya tangkap dari kunjungan Tim Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) Direktorat SMK bersama Asosiasi Guru Marketing Indonesia (AGMARI) ke Kawan Lama Group dan PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) pada hari ini 11 Maret 2026. Kunjungan ini bukan sekadar agenda formal. Di baliknya, ada upaya serius untuk memastikan bahwa program Gerakan 1000 Siswa SMK Sales Naik Kelas benar-benar berjalan, relevan dengan kebutuhan industri, dan memberi pengalaman belajar yang mendekatkan siswa pada dunia kerja yang sesungguhnya.

Selama enam bulan berjalan, program ini telah menjadi ruang temu yang menarik antara sekolah, asosiasi profesi guru, dan dunia usaha. Di titik inilah evaluasi menjadi penting. Bukan untuk mencari kekurangan semata, tetapi untuk membaca apa yang sudah berjalan baik, apa yang dirasakan manfaatnya oleh industri, dan apa yang masih perlu diperkuat pada semester berikutnya.

Kunjungan yang Menunjukkan Keseriusan Pengawalan Program

Agenda dimulai sejak pagi di Kawan Lama Group, Kembangan, Jakarta Barat. Tim dari Direktorat SMK dan AGMARI hadir untuk melakukan evaluasi pelaksanaan program sekaligus membicarakan langkah lanjutan ke depan.

Dari Direktorat SMK, hadir Sartana, S.Pd., M.M., Kepala Subdirektorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), didampingi Sintiana sebagai perwakilan Direktorat SMK. Dari AGMARI, hadir Dedy Budiman, M.Pd. selaku Ketua Dewan Pembina AGMARI, Rina Finanti selaku Ketua Umum AGMARI, serta Ahmad Madani dan Pebriza Yanti sebagai pengurus AGMARI.

Rombongan diterima oleh tim Kawan Lama Group, di antaranya Daniel Trisno Santoso, Group Business Operation Director PT Home Center Indonesia (Informa), dan Liana Lianawati, HR Division Head yang membidangi Employee Experience, Talent Acquisition & Assessment, serta Talent Management, bersama tim.

Suasana diskusi berlangsung cair, hangat, dan sangat terbuka. Namun yang paling penting, pertemuan ini memperlihatkan bahwa program ini tidak dibiarkan berjalan sendiri. Ada proses pengawalan yang nyata. Ada ruang untuk mendengar pengalaman industri. Ada komitmen untuk terus menyelaraskan pembelajaran siswa dengan kebutuhan kerja di lapangan.

Tim Direktorat SMK dan AGMARI berdiskusi dengan manajemen Kawan Lama Group dalam evaluasi program Gerakan 1000 Siswa SMK Sales Naik Kelas

Kawan Lama Group Melihat Manfaat Nyata Program Ini

Dalam diskusi tersebut, Kawan Lama Group menyampaikan bahwa mereka mendampingi 59 SMK dari 21 provinsi dalam program ini. Angka ini menjadi penting karena memperlihatkan jangkauan program yang luas sekaligus tantangan koordinasi yang tidak kecil.

Secara keseluruhan, program Gerakan 1000 Siswa SMK Sales Naik Kelas sendiri diikuti oleh 115 SMK dari 30 provinsi, dengan total peserta lebih dari 3.000 siswa. Ini bukan angka kecil. Artinya, program ini telah masuk ke skala nasional dan membutuhkan pola pengelolaan yang rapi, disiplin, dan konsisten.

Yang menarik, pihak Kawan Lama Group merasa terbantu dengan adanya program ini. Bagi mereka, siswa tidak hanya diperkenalkan pada dunia retail secara umum, tetapi juga mulai memahami kompetensi yang dibutuhkan agar kelak dapat memenuhi kualifikasi kerja yang ditetapkan oleh industri.

Di sinilah nilai penting program ini terlihat. Banyak program sekolah dan industri berhenti pada tahap pengenalan. Siswa datang, mendengar, lalu selesai. Tetapi ketika industri mulai merasa terbantu karena siswa lebih paham dunia kerja, berarti ada proses belajar yang lebih dalam sedang terjadi.

Kawan Lama Group juga menyoroti bagaimana para siswa aktif membagikan hasil pembelajaran mereka melalui LinkedIn. Hal ini menjadi sinyal positif. Dunia usaha tidak hanya melihat siswa dari ijazah atau nilai rapor, tetapi juga dari jejak belajar, cara mereka merefleksikan pengalaman, dan bagaimana mereka membangun portofolio sejak dini.

Bagi saya, ini adalah salah satu perkembangan yang layak dicatat. Ketika siswa SMK mulai belajar menunjukkan proses belajarnya secara profesional, maka mereka sedang dilatih bukan hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga calon talenta yang siap dikenali oleh industri.

Program yang dikawal dengan baik akan melahirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan kerja.

Dari Kembangan ke Cempaka Putih: Evaluasi Berlanjut di Yamaha Indonesia

Setelah agenda di Kawan Lama Group selesai, tim melanjutkan kunjungan ke Flagship Yamaha di kawasan Cempaka Putih. Pada sesi ini, Direktorat SMK diwakili oleh Eru Achmad, Widyaprada Ahli Madya, dan Lia Amalia, staf kemitraan.

Kedatangan tim Direktorat SMK dan AGMARI disambut langsung oleh Gregorius Josef Liem (Ayung), Manager CSS Department PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM).

Kunjungan Direktorat SMK dan AGMARI ke Yamaha Indonesia untuk membahas evaluasi dan tindak lanjut program siswa SMK sales

Dalam diskusi tersebut, Yamaha menyampaikan bahwa program ini sangat relevan dengan kebutuhan mereka, khususnya dalam konteks kebutuhan tenaga sales yang tinggi. Pernyataan ini penting, karena menunjukkan bahwa program tidak berjalan di ruang hampa. Ada kebutuhan riil dari industri, dan program ini hadir untuk menjembatani kebutuhan itu dengan proses pembelajaran di SMK.

Yamaha juga menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan program. Selain mengevaluasi pelaksanaan selama enam bulan, diskusi siang itu juga membahas rencana proyek yang akan dijalankan para siswa pada April 2026.

Ini menunjukkan satu hal penting: evaluasi tidak berhenti pada penilaian masa lalu. Evaluasi yang baik selalu berujung pada perbaikan langkah berikutnya. Ketika hasil enam bulan pertama dibicarakan, lalu langsung dihubungkan dengan rencana aktivitas semester depan, maka program ini sedang dibangun dengan pola pikir berkelanjutan.

Mengapa Kolaborasi Ini Perlu Terus Dikawal

Banyak kerja sama antara sekolah dan industri terdengar baik di atas kertas, tetapi tidak semuanya mampu bertahan dalam implementasi. Tantangan biasanya muncul saat program sudah berjalan: koordinasi melemah, semangat menurun, target menjadi kabur, atau kegiatan tidak lagi terhubung dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Karena itu, yang membuat kunjungan ini penting bukan hanya siapa yang hadir atau ke mana lokasinya, tetapi pesan yang dibawanya. Pesan itu sederhana: kolaborasi yang baik harus terus dikawal.

Direktorat SMK memiliki peran penting dalam menjaga arah kebijakan dan penyelarasan. AGMARI punya posisi strategis dalam menjembatani dunia pendidikan dengan praktik pemasaran dan penjualan yang relevan. Sementara industri memberi konteks nyata tentang standar kerja, kebutuhan kompetensi, dan ekspektasi terhadap calon tenaga kerja muda.

Ketika tiga unsur ini bertemu secara rutin, program seperti Gerakan 1000 Siswa SMK Sales Naik Kelas punya peluang lebih besar untuk tidak sekadar ramai di awal, tetapi benar-benar menghasilkan perubahan dalam cara siswa belajar dan mempersiapkan diri.

Kolaborasi pendidikan dan industri akan kuat bukan karena sekali bertemu, tetapi karena terus dijaga arah dan mutunya.

Yang Bisa Dipelajari dari Evaluasi Enam Bulan Ini

Ada beberapa pelajaran penting yang menurut saya layak dicatat dari rangkaian kunjungan ini.

Pertama, industri membutuhkan program yang relevan, bukan sekadar seremonial. Baik Kawan Lama Group maupun Yamaha menunjukkan bahwa mereka melihat hubungan nyata antara program ini dengan kebutuhan bisnis dan pengembangan talenta.

Kedua, siswa perlu dikenalkan lebih awal pada standar profesional dunia kerja. Pemahaman tentang retail, kebutuhan kompetensi sales, hingga cara membangun portofolio pembelajaran menjadi bekal penting sebelum mereka benar-benar masuk ke dunia kerja.

Ketiga, skala program yang besar menuntut pengawalan yang serius. Ketika peserta berasal dari 115 SMK di 30 provinsi, maka kualitas pelaksanaan tidak bisa dijaga hanya dengan semangat. Diperlukan ritme evaluasi, komunikasi yang baik, dan tindak lanjut yang jelas.

Keempat, keberlanjutan program sangat bergantung pada kualitas kolaborasi. Program yang melibatkan banyak pihak hanya bisa tumbuh jika masing-masing pihak merasa didengar, dilibatkan, dan melihat manfaat yang nyata.

Menjaga Program Tetap Bertumbuh

Kunjungan ini memberi kesan optimistis. Industri memberi respons positif. Program dinilai relevan. Siswa mulai menunjukkan perkembangan, termasuk dalam cara mereka mendokumentasikan pembelajaran dan membangun portofolio profesional.

Namun justru karena hasil awalnya baik, program ini perlu terus dijaga. Program yang sedang tumbuh tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa arah. Ia perlu dipantau, disesuaikan, dan dikuatkan dari semester ke semester.

Saya melihat kunjungan Direktorat SMK dan AGMARI ke Kawan Lama Group dan Yamaha Indonesia pada 11 Maret 2026 ini sebagai penanda bahwa program Gerakan 1000 Siswa SMK Sales Naik Kelas sedang dikawal dengan keseriusan. Dan dalam kerja kolaboratif seperti ini, keseriusan pengawalan sering kali menjadi pembeda antara program yang hanya terdengar bagus dan program yang benar-benar memberi dampak.

Pada akhirnya, tujuan kita bukan hanya membuat siswa mengikuti program. Tujuan yang lebih besar adalah membantu mereka bertumbuh menjadi pribadi yang lebih siap, lebih paham kebutuhan industri, dan lebih percaya diri menghadapi dunia kerja.

Karena itu, kolaborasi yang sudah berjalan baik ini patut diapresiasi. Tetapi yang lebih penting, kolaborasi ini juga perlu terus dijaga agar manfaatnya semakin terasa bagi sekolah, industri, dan terutama para siswa SMK di seluruh Indonesia.