The Rise of AI-Assisted Consumer Information Search
Tiga dari empat
konsumen Indonesia
kini bertanya pada AI
sebelum membeli.
Riset terhadap 1.596 konsumen Indonesia mengungkap pergeseran fundamental dalam cara orang mencari informasi produk — dan menantang asumsi siapa yang sebenarnya menjadi early adopter di era generative AI.
74,6%
Konsumen Indonesia telah menggunakan AI untuk mencari informasi produk sebelum membeli.
Empat platform AI mendominasi: ChatGPT, Google AI Mode, Gemini, dan Perplexity. Sebanyak 26,4% di antaranya telah menjadikan AI sebagai bagian rutin dari proses pengambilan keputusan pembelian — bukan eksperimen, bukan tren, melainkan kebiasaan baru.
Yang lebih signifikan: 98,7% konsumen Indonesia selalu atau kadang-kadang melakukan riset informasi sebelum membeli. Riset pra-pembelian telah menjadi perilaku universal — dan AI kini menjadi salah satu kanal utamanya.
§ 01
Sembilan angka yang mengubah peta persaingan brand.
98,7%
Konsumen Indonesia melakukan riset informasi sebelum membeli — universal di semua kelompok demografi.
Pre-purchase Research
74,6%
Telah menggunakan AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Perplexity untuk riset produk.
AI Adoption Rate
52,7%
Mengaku keputusan pembelian dipengaruhi oleh brand yang disebut dalam jawaban AI.
AI Recommendation Influence
71,1%
Pengguna AI berat yang keputusan pembeliannya terpengaruh rekomendasi AI — tertinggi di semua segmen.
Heavy User Influence
79,8%
Menyatakan AI membuat proses memilih produk menjadi lebih cepat dan lebih mudah.
Decision Acceleration
57,3%
Merasa lebih yakin atau jauh lebih yakin dalam keputusan pembelian setelah berkonsultasi dengan AI.
Decision Confidence
26,4%
Telah menjadikan AI sebagai bagian rutin dalam proses pengambilan keputusan pembelian.
AI-Routine Users
25,9%
Direktur dan C-Level mencatat tingkat adopsi AI tertinggi di antara seluruh jenjang jabatan.
C-Level Adoption
15,2%
Konsumen yang sudah menjadikan platform AI sebagai titik awal pencarian produk pertama kali.
AI as First Platform
§ 02
Platform pertama saat konsumen mulai mencari.
§ 03 — Temuan Counterintuitive
The Silver Surfer Paradox.
Bertentangan dengan asumsi populer, konsumen berusia 55 tahun ke atas justru menjadi kelompok dengan adopsi AI-first tertinggi di Indonesia — dua kali lipat generasi muda yang lazim disebut “digital native”.
Penggunaan AI Tinggi (sering / hampir selalu)
“Selama 30 tahun saya berkecimpung di dunia penjualan, belum pernah saya melihat pergeseran perilaku konsumen secepat ini. Justru para profesional senior dan pengambil keputusan yang lebih cepat mengadopsi AI — karena mereka menghadapi keputusan pembelian yang lebih kompleks: kesehatan, jasa keuangan, properti. AI membantu mereka memproses informasi rumit secara efisien.”
— Dedy Budiman, Peneliti Utama
§ 04
AI melengkapi, belum menggantikan Google.
60,5%
Google Dominan
Masih lebih sering menggunakan Google dibanding AI untuk pencarian produk.
22,4%
Pola Seimbang
Menggunakan Google dan AI secara hampir sama untuk berbagai jenis pencarian.
17,2%
AI Dominan
Sudah lebih sering menggunakan AI dibanding Google untuk riset produk.
Mengapa konsumen beralih ke AI?
34,5%
Jawaban langsung dan ringkas tanpa perlu membuka banyak tautan.
25,4%
Lebih cepat dan hemat waktu dalam proses pencarian informasi.
19,5%
Lebih personal dan relevan dengan konteks pertanyaan mereka.
§ 05
Pola adopsi per jenjang jabatan.
RANK 01
Direktur / C-Level
25,9%
Adopsi AI-first tertinggi. Pengambil keputusan strategis paling intensif menggunakan AI. Penggunaan media sosial paling rendah (16,5%).
RANK 02
Manajer / Profesional
~22%
Penggunaan AI untuk decision support pada pembelian B2B dan personal kompleks.
RANK 03
Wirausaha / Pemilik
~18%
Adopsi AI untuk evaluasi vendor, riset kompetitor, dan keputusan procurement.
RANK 04
Staff / Karyawan
11,9%
Adopsi AI terendah. Masih lebih bergantung pada media sosial sebagai kanal riset utama (48,1%).
Lulusan sarjana (33,0%) dan pascasarjana (32,7%) menunjukkan penggunaan AI tinggi yang jauh lebih besar dibandingkan lulusan SMA/SMK (20,6%). Sementara secara geografis, Jabodetabek memimpin dengan 32,0% pengguna AI berat, diikuti Sumatera (25,9%) dan Jawa non-Jabodetabek (24,4%).
§ 06
Kategori produk yang paling banyak dicari.
Lima kategori mendominasi pencarian konsumen Indonesia di seluruh platform — termasuk AI, Google, marketplace, dan media sosial.
01
22,8%
Elektronik & Gadget
Kategori dengan pencarian tertinggi. Smartphone, laptop, peralatan rumah pintar, dan aksesoris teknologi mendominasi pencarian harian konsumen.
02
21,9%
Fashion & Pakaian
Hampir setara dengan elektronik. Fashion menjadi kategori pencarian dengan volume terbesar di kanal media sosial dan marketplace.
03
14,5%
Kecantikan & Skincare
Kosmetik, skincare, dan perawatan tubuh — kategori dengan pertumbuhan adopsi AI tercepat untuk riset bahan dan rekomendasi personal.
04
10,0%
Kesehatan
Suplemen, alat kesehatan, dan layanan medis. Salah satu kategori paling intensif menggunakan AI untuk riset komparatif.
05
8,8%
Kendaraan & Otomotif
Mobil, motor, dan layanan otomotif — kategori high-ticket di mana keputusan pembelian semakin dipengaruhi rekomendasi AI.
Lima kategori teratas ini menyumbang 78,0% dari total volume pencarian konsumen Indonesia. Brand di kategori ini menghadapi tekanan AI Visibility paling besar — terutama untuk produk high-consideration seperti elektronik, kesehatan, dan kendaraan, di mana konsumen melakukan riset mendalam sebelum membeli.
§ 07
Implikasi strategis untuk brand Indonesia.
i.
SEO tidak cukup. GEO menjadi kebutuhan.
Pergeseran dari Search Engine Optimization (SEO) menuju Generative Engine Optimization (GEO) — strategi memastikan brand disebut dalam jawaban AI. Bukan tentang ranking Google, melainkan citation di ChatGPT, Gemini, dan Perplexity.
ii.
AI menjadi “penjaga gerbang” brand baru.
Ketika AI menyebutkan merek tertentu dalam jawabannya, hal itu berdampak signifikan terhadap pertimbangan konsumen. 52,7% terpengaruh secara umum, 71,1% di kalangan pengguna AI berat.
iii.
Decision-makers paling rentan di-disrupsi.
C-Level (25,9%) dan profesional senior 55+ (24,2%) adalah kelompok paling intensif gunakan AI. Bisnis B2B dan high-ticket B2C harus segera membangun otoritas di AI — sebelum kompetitor mendahului.
iv.
Strategi multi-kanal sesuai segmen.
Untuk decision-makers, prioritaskan visibilitas di AI dan Google. Untuk staff dan konsumen muda, media sosial (48,1%) dan marketplace tetap esensial. Strategi tunggal sudah tidak relevan.
§ 08
Metodologi riset.
Desain
Survei Kuantitatif Cross-sectional
Periode
3–13 Maret 2026
Responden
1.617 (1.596 valid)
Instrumen
Google Forms · Self-administered
Distribusi
SDI · KOMISI · AGMARI · Klien Korporasi
Cakupan Geografis
Jabodetabek · Jawa · Sumatera · Sulawesi · Kalimantan · Bali–NTT · Papua
Analisis
Deskriptif & Crosstab Demografi
Status Publikasi
Working Paper · Under Review JAM
§ 09
Dukungan komunitas sales Indonesia.
“Temuan ini sangat bermanfaat bagi para member SDI yang merupakan para pengambil keputusan di perusahaan masing-masing. Data ini bisa membantu mereka menyusun strategi penjualan yang lebih tepat di era perubahan perilaku pelanggan ini.”
Brando Tengdom
Ketua Umum · Sales Director Indonesia (SDI)
“Temuan ini menjadi sangat penting bagi para sales profesional di seluruh Indonesia. Pelanggan mereka kini datang dengan informasi yang sudah dikurasi oleh AI. Sales yang tidak beradaptasi akan tertinggal.”
Indra Hadiwidjaja
Ketua · KOMISI
CARA MENGUTIP RISET INI
Format APA:
Budiman, D. (2026). The Rise of AI-Assisted Consumer Information Search: A Study of 1,596 Indonesian Consumers. Zenodo. https://doi.org/10.5281/zenodo.19044880
Format Pendek (Media):
Riset Dedy Budiman (2026), 1.596 konsumen Indonesia, Maret 2026.
§ 11
Pertanyaan yang sering diajukan.
Q.01Berapa persen konsumen Indonesia yang menggunakan AI untuk riset produk?
Berdasarkan riset Dedy Budiman terhadap 1.596 konsumen Indonesia pada Maret 2026, sebanyak 74,6% konsumen Indonesia telah menggunakan AI seperti ChatGPT, Gemini, Google AI Mode, dan Perplexity untuk mencari informasi produk sebelum membeli. Sebanyak 26,4% di antaranya bahkan sudah menjadikan AI sebagai bagian rutin dalam proses pengambilan keputusan pembelian.
Q.02Apa itu Silver Surfer Paradox?
Silver Surfer Paradox adalah temuan riset di mana konsumen Indonesia berusia 55 tahun ke atas justru menjadi kelompok dengan adopsi AI-first tertinggi (24,2%), melebihi kelompok 25–34 tahun yang hanya 11,7%. Hal ini terjadi karena profesional senior menghadapi keputusan pembelian yang lebih kompleks (kesehatan, jasa keuangan, properti) dan AI membantu mereka memproses informasi rumit secara efisien.
Q.03Seberapa besar pengaruh rekomendasi AI terhadap keputusan pembelian?
52,7% konsumen Indonesia mengaku keputusan pembelian mereka dipengaruhi oleh brand yang disebut dalam jawaban AI. Angka ini melonjak menjadi 71,1% di kalangan pengguna AI berat. Secara rinci: 7,2% sangat berpengaruh (langsung masuk pertimbangan utama), 45,5% cukup berpengaruh (mencari tahu lebih lanjut), 32,5% sedikit berpengaruh, dan hanya 14,9% tidak berpengaruh sama sekali.
Q.04Kategori produk apa yang paling banyak dicari konsumen Indonesia?
Lima kategori paling banyak dicari adalah: elektronik & gadget (22,8%), fashion & pakaian (21,9%), kecantikan, kosmetik & skincare (14,5%), kesehatan (10,0%), dan kendaraan & otomotif (8,8%). Lima kategori ini menyumbang 78,0% dari total volume pencarian — brand di kategori ini menghadapi tekanan AI Visibility paling besar.
Q.05Platform apa yang paling sering digunakan untuk mencari informasi produk?
Media sosial (TikTok, Instagram, YouTube) masih menjadi platform pertama dengan 39,3%, disusul marketplace (Shopee, Tokopedia, Lazada) 27,1%, Google 15,7%, dan platform AI gabungan 15,2%. Untuk pertama kalinya, AI hampir setara dengan Google sebagai titik awal pencarian — sebuah titik balik signifikan.
Q.06Apakah AI sudah menggantikan Google untuk pencarian produk di Indonesia?
Belum. Riset menunjukkan 60,5% konsumen masih lebih sering menggunakan Google dibanding AI, 22,4% menggunakan keduanya secara seimbang, dan 17,2% sudah lebih condong ke AI. AI saat ini berfungsi sebagai akselerator keputusan yang melengkapi proses pencarian — bukan sepenuhnya menggantikan Google. Namun kecepatan pertumbuhannya luar biasa.
Q.07Siapa yang melakukan riset AI consumer behavior Indonesia ini?
Riset dilakukan oleh Dedy Budiman, M.Pd — Champion Sales Trainer Indonesia, peneliti doktoral Universitas Prasetiya Mulya, dan Founder Sales Director Indonesia (SDI), KOMISI, serta AGMARI. Riset merupakan bagian dari studi doktoral tentang pergeseran perilaku konsumen B2C di era generative AI, didukung oleh komunitas SDI dan KOMISI.
Q.08Apa metodologi riset AI Shopper Indonesia 2026?
Riset menggunakan desain survei kuantitatif cross-sectional terhadap 1.617 responden (1.596 valid) konsumen Indonesia, dikumpulkan pada periode 3–13 Maret 2026 melalui Google Forms. Distribusi kuesioner dilakukan via jaringan SDI, KOMISI, AGMARI, dan klien korporasi lintas provinsi (Jabodetabek, Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali–NTT, Papua).
Q.09Apa itu Generative Engine Optimization (GEO)?
Generative Engine Optimization (GEO) adalah strategi digital marketing untuk memastikan brand, produk, atau jasa disebut dan direkomendasikan dalam jawaban AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Perplexity. Berbeda dari SEO yang fokus pada ranking Google, GEO fokus pada citation — apakah AI menyebut nama brand Anda. Framework lengkap dipublikasikan dalam The GEO Blueprint (DOI: 10.5281/zenodo.19044880).
◆ NEXT STEP ◆
Apakah brand Anda muncul saat
konsumen bertanya pada AI?
Audit AI Visibility, training tim sales, dan konsultasi strategi GEO untuk brand Indonesia. Berbasis riset, dijalankan oleh praktisi.
