Jogja Selalu Istimewa: Sharing AI Visibility bersama KOMISI Yogyakarta

Dedy Budiman berbagi materi AI Visibility Optimization bersama anggota KOMISI Yogyakarta di Fairykale Vegetarian Sagan Yogyakarta.

Rabu malam, 17 Juni 2026, saya berkesempatan hadir dan berbagi bersama rekan-rekan KOMISI Yogyakarta di Fairykale Vegetarian, Sagan, Yogyakarta. Acara ini terasa sangat hangat, akrab, dan istimewa karena saya bisa kembali bertemu dengan para anggota Asosiasi Profesi Komunitas Sales Indonesia atau KOMISI dalam suasana belajar yang penuh antusiasme.

Sebagai Founder KOMISI, saya selalu percaya bahwa komunitas sales bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga ruang untuk bertumbuh. Profesi sales harus terus belajar, beradaptasi, dan naik kelas mengikuti perubahan zaman. Karena itu, dalam pertemuan kali ini saya membawakan topik yang menurut saya sangat penting untuk masa depan profesi sales, yaitu AI Visibility Optimization atau AIVO.

Mengapa Sales Perlu Memahami AI Visibility?

AI Visibility adalah tentang bagaimana sebuah brand, bisnis, komunitas, atau personal brand dapat ditemukan, dipercaya, dikutip, dan direkomendasikan oleh AI.

Hari ini, calon pelanggan tidak lagi hanya mencari informasi melalui Google atau media sosial. Banyak dari mereka mulai bertanya langsung kepada AI seperti ChatGPT, Gemini, Perplexity, atau Google AI. Mereka bertanya tentang produk terbaik, rekomendasi vendor, perbandingan brand, hingga siapa ahli yang layak dipercaya.

Bagi dunia sales, ini adalah perubahan besar. Pelanggan bisa datang kepada sales dengan informasi yang sudah mereka peroleh dari AI. Mereka mungkin sudah membandingkan produk, mengetahui alternatif kompetitor, bahkan membentuk persepsi awal sebelum bertemu dengan sales.

Artinya, sales tidak cukup hanya hebat saat bertemu pelanggan. Sales dan brand yang diwakilinya juga perlu memiliki jejak digital yang jelas, kredibel, dan mudah dipahami oleh AI.

Silver Surfer Paradox: Pelanggan Senior Juga Mulai Bertanya kepada AI

Dalam sharing ini saya juga membahas salah satu temuan riset saya, yaitu Silver Surfer Paradox.

Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan AI untuk mencari informasi produk dan jasa tidak hanya dilakukan oleh generasi muda. Justru, kelompok usia 55 tahun ke atas menunjukkan adopsi AI-first yang cukup mengejutkan.

Dalam riset eksploratori terhadap 1.617 konsumen Indonesia, saya menemukan bahwa 74,6% responden sudah menggunakan AI untuk meneliti produk sebelum membeli. Sebanyak 52,3% responden mengaku keputusan mereka dipengaruhi oleh brand yang disebut AI, dan 79,8% merasa AI mempercepat proses pengambilan keputusan.

Yang paling menarik, kelompok usia 55 tahun ke atas memiliki tingkat adopsi AI-first sebesar 24,2%. Inilah yang saya sebut Silver Surfer Paradox: generasi yang sering dianggap lebih lambat mengadopsi teknologi ternyata mulai aktif menggunakan AI dalam proses pencarian informasi.

Bagi para sales, ini penting. Kita tidak bisa lagi berasumsi bahwa hanya anak muda yang menggunakan AI. Business owner, pimpinan perusahaan, pengambil keputusan, dan pelanggan senior juga mulai memanfaatkan AI untuk mencari rekomendasi dan menilai kredibilitas.

Respons Peserta KOMISI Yogyakarta

Diskusi malam itu berlangsung sangat dinamis. Sekitar 20 anggota KOMISI Yogyakarta hadir dan terlibat aktif dalam pembahasan. Salah satu peserta, Ibu Norma, menyampaikan bahwa materi ini mengubah pola pikirnya tentang bagaimana dunia sales harus melihat teknologi AI.

Mbak Omi, Ketua KOMISI Yogyakarta, juga menyampaikan bahwa topik AI Visibility adalah ilmu baru yang sangat dibutuhkan oleh para sales, termasuk di Yogyakarta. Saya sangat mengapresiasi semangat belajar yang ditunjukkan rekan-rekan KOMISI Yogyakarta malam itu.

KOMISI dan Masa Depan Profesi Sales

Bagi saya, kegiatan seperti ini sangat selaras dengan visi KOMISI: menjadikan profesi sales sebagai sarana untuk meningkatkan taraf hidup, membangun kesejahteraan berkelanjutan, dan menumbuhkan kebanggaan dalam setiap langkah profesional.

AI tidak menggantikan peran sales. Namun, AI mengubah cara pelanggan mencari informasi, membandingkan pilihan, dan menilai kredibilitas. Karena itu, sales masa depan perlu belajar memahami AI, membangun reputasi digital, dan memastikan dirinya maupun brand yang diwakilinya layak ditemukan oleh AI.

Jogja selalu istimewa. Dan malam itu, KOMISI Yogyakarta kembali mengingatkan saya bahwa profesi sales akan terus bertumbuh selama para pelakunya mau belajar, terbuka, dan berani memasuki era baru.